Resensi Novel : Impian Yang Sempurna

Review Novel : Impian yang Sempurna

Novel remaja Impian yang Sempurna

Novel : Impian yang Sempurna

Penulis : MQ Maria

Genre : Teenlit Inspiratif

Penerbit : Zettu (2014)

 

Hallooo… >.<

Sedikit telat posting ini (2014 nyaris berakhir). Terima kasih buat kalian yang telah berkunjung ke blog ini, entah sengaja atau cuma tersesat aja, haha. Semoga kalian suka blog ini walau terlampau sederhana dan gak ada inovasinya sama sekali, haha >.<.

Well, seperti yang terlihat di foto, judul novel karyaku ini adalah Impian yang Sempurna. Yup, kita semua pasti memiliki impian, bukan? Banyak cara dilakukan untuk meraih impian, walau terkadang rasa pesimis membuat kita berpikir bahwa impian itu terlalu tinggi dan mustahil untuk diraih.

Namun, Marsya, tidak lantas menyerah begitu saja meraih impiannya. Yup, Marsya adalah nama tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah seorang gadis SMA yang memiliki cita-cita tinggi—menjadi perancang mobil.

Novel ini bercerita tentang perjuangan dia agar bisa masuk ke sekolah baru yang inovatif, sekolah khusus otomotif. Marsya tomboy, dan dia suka mengutak-atik mobil mainan seperti orang gila. Dia tertarik dengan mobil sejak kecil. Namun banyak sekali halangan yang dia tempuh, bahkan hanya untuk bisa belajar di sekolah khusus pembuatan mobil.

Yup, sekolah itu hanya menerima seleksi untuk siswa lelaki. Marsya tidak bisa mendaftar seleksi masuk karena dia adalah perempuan.

Namun, Marsya memiliki saudara kembar, Marko. Nah, dia pun memanfaatkan Marko agar bisa masuk ke sekolah itu. Bagaimana caranya? Dan apakah Marko yang kolot, serius, pemarah, dan jutek bersedia membantu Marsya yang urakan itu agar bisa meraih impiannya?

Novel Impian yang Sempurna memang mengetengahkan persaudaraan Marsya-Marko, dan perjuangan mereka agar semakin dekat dengan impian besar mereka. Tak hanya itu, masih ada cerita percintaan Marsya-Ray, persahabatan Ray-Marko, hubungan hambar ayah-anak, juga kedekatan batin guru dengan muridnya.

Buat yang belum baca, aku kasih bocoran novelku. Semoga bisa menikmati ceritanya walau hanya sepotong, haha >.<

Semoga suka dengan ceritanya >.<

Dan terima kasih banyak buat yang sudah membeli dan membacanya. Terima kasih atas apresiasinya >.<.

Salam hangat,

 

MQ Maria

Twitter : @Uniquemq

 

 

 

 

 

————————————————————————–

————————————————————————–

————————————————————————–

 

“Kok Lo bawa gue kemari? Ngapain?” tanya Marsya dengan nada manja. Marko menoleh sebentar lalu membuka kunci pintu di depannya.

“Karena di sini ada harta karun berharga!” Marko membalasnya dengan senyum. Mendorong pintu yang jarang dibuka itu hingga terdengar decit keras. Kreeekkk!

“Waktu gue naruh mobil-mobil mainan dan rakitan gue kemaren, gue nggak ngeliat ada harta karun berharga,” sahut Marsya lugu. Ia mengipas-ngipaskan tangan di depan mulut. Debu-debu beterbangan menyerbu hidungnya. Khas sebuah gudang. Mereka memang tengah memasuki ruangan pengap itu.

“Uhukk…uhukk!” Marko terbatuk-batuk.

“Mana harta karunnya? Emas batangan? Koin perak? Guci etnik yang langka? Atau???” tanya Marsya polos.

Marko tersenyum simpul. “Bahkan semua itu nggak sebanding harganya dengan harta karun yang ada di sini!”

Marko pun membuka salah satu jendela. Membiarkan langit cerah sore ini mengirimkan cahayanya ke gudang yang gelap itu. Beberapa lubang ventilasi tertutupi oleh sarang laba-laba. Plafon di atas mereka sudah terkelupas. Suara cicit tikus terdengar sayup-sayup. Gudang ini memang sedikit mengerikan.

“Gue jadi penasaran sama harta karun yang Lo maksud! Mana?”

“Kok nanya gue? Kan Lo yang nyimpen? Di mana Lo naruhnya?” Marko bertanya balik. Mencari-cari kardus mie instan yang ia duga sebagai “garasi” mobil-mobil Marsya.

“Lah, kok Lo justru nanya gue? Sebenarnya, ada nggak sih harta karun itu?”

Karena banyaknya kardus-kardus yang tidak tersusun rapi di dalam gudang itu, Marko kesulitan mencarinya. Marko pun memutuskan mencari kardus yang masih terlihat baru. Dan ia menemukannya. Segera Marko mengangkat kardus itu. Membawanya ke bawah jendela agar terterangi oleh cahaya matahari.  Marsya mengikutinya.

“Harta karunnya ada di sini!” Marko membuka isi kardus itu.

Marsya terhenyak bingung. “Ini kan mobil-mobilan gue, Ko. Jadi, yang Lo maksud tadi…emas batangan, koin perak, guci etnik…nggak sebanding harganya dengan…” simpul Marsya ragu-ragu. Mobil-mobilan Marsya?

“Menurut gue, ini lebih berharga untuk Lo miliki daripada harta kekayaan itu.  Ini impian Lo, Sya. Nggak ada yang bisa ngebandingin mahalnya sebuah impian!” Marko mengelus rambut Marsya. Marsya tersentuh dengan kata-katanya.

“Lo udah ngebikin mobil-mobilan yang ukurannya bahkan lebih kecil dari guci ini berhari-hari, dengan keringat Lo, dengan kesabaran Lo.” Marko menimbang-nimbang mobil rakitan yang tak sempurna itu. Marsya sudah menghancurkannya.

“Dan perjuangan itu tak bisa dihargai dengan rupiah!”

Marsya mengangguk. Ia menghempaskan tubuh langsingnya di lantai, di samping kardus itu. Kemudian ia mengambil salah satu mobil mainannya.

“Mobil yang Lo pegang itu, Lo beli setelah Lo nggak jajan di sekolah 1 bulan. Kentara banget Lo kehilangan berat badan. Lo kecapekan keliling mall buat nyari tuh mobil sampai maksa-maksa Tante buat mijitin kaki Lo. Padahal, buat orang lain, apa pentingnya berkorban sebegitunya hanya untuk mobil mainan pajangan?”

Marsya tersenyum miris. Ia ingat peristiwa itu. Ia memang antusias sekali saat teman sekelasnya memberitahu bahwa stok mobil-mobilan itu hanya tersisa sedikit. Ia tak ingin kehabisan.

Marko merebut mobil mainan itu dari tangan Marsya. Ia menyelonjorkan kakinya dengan santai.  

“Mimpi Lo sebagai perancang mobil itu, nggak seharusnya Lo tinggalin hanya karena Lo bukan “Laki-laki”. Lo hidup di zaman emansipasi, Sya!”

“Tapi pihak AutoWheel mungkin nggak peduli soal emansipasi. Cewek nggak diberi kesempatan untuk menjadi perancang mobil yang hebat dan sukses lewat jalur mereka.” Marsya mendongakkan kepalanya dan menarik nafas. Kepalanya tertoleh pada sesuatu yang terpajang di atas lemari tua lapuk yang berdiri di depan.

Marsya terbeliak. “Itu…sepatu bola Lo waktu kecil kan, Ko?” tunjuk Marsya. Ia berdiri dan mengambil benda milik Marko itu. Marsya berusaha meraihnya dengan menjingkitkan kaki. Hupp…hupp! Ia bisa mendapatkannya setelah meloncat-loncat kecil.

Marsya mengelus-elus sepatu berwarna putih tersebut. “Gilaaa… ini masih bagus banget, Ko! Emangnya belum pernah Lo pake ya?”

“Cuma sekali dan untuk yang terakhir kalinya!” sahut Marko kalem. Ia sedikit sedih jika mengingat kenangannya bersama sepatu itu. Itu hadiah almarhumah mama saat ultahnya yang ke-12.

Marsya kembali ke samping Marko. Tangan kedua saudara kembar itu, masing-masing—meskipun tertukar, memegang sebuah benda yang berhubungan dengan mimpi keduanya. Marko memegang mobil mainan Marsya. Marsya menggenggam sepatu bola Marko. Bedanya, mimpi menjadi perancang mobil itu masih bisa Marsya raih. Ia masih punya harapan di situ.

Sedangkan mimpi Marko menjadi pemain sepakbola terkenal, telah ia tinggalkan.

Mulut keduanya terkatup. Memandangi benda yang ada di tangan mereka. Marsya melirik ke arah Marko yang terlamun itu.

“Ingat almarhumah Mama ya?” tanyanya hati-hati. Ia tak ingin membuat Marko lebih sedih. Marko memang mudah terpikirkan sesuatu. Ia sensitif.

Marko mengangguk. “Sepatu itu hadiah ulang tahun terakhir dari Mama,” lirihnya.

Memang 2 bulan sebelum ultah mereka yang ke-13, Mama menghadap Tuhan terlebih dulu. Mereka kehilangan orang yang sangat dicintai. Mata Marko berkaca-kaca. Perpisahan paling memilukan yang pernah mereka alami.

“Gue sedih bila ingat mama. Saat-saat terakhir kita bersama mama, di dalam mobil, di rumah sakit,” kenang Marsya. Penglihatannya berkabut. Ia menyekanya perlahan. Ia melirik Marko. Mengusap bawah mata Marko dengan lembut. Ada bening yang meresap ke jarinya. Ia juga nyaris menangis. Tapi ia akan lebih menangis jika tak buru-buru menyeka airmata kakaknya.

Marko diam saja meresponnya. Ia hanya bersandar sambil merenungi kejadian itu.

Di mobil, di rumah sakit! Itu memang tempat terakhir yang penuh kenangan bersama mama. Mengenang mama, membuat keduanya menjadi rapuh. Mereka tersandar di dinding gudang yang kotor itu. Mengambil napas dan menghembuskannya bersamaan. Menerawang ke beberapa tahun yang lalu.

Momen terakhir yang sungguh bermakna bagi kehidupan mereka!

***

“Masih ingin menjadi pemain sepakbola juga, hah?”

Plak! Papa melecut kaki Marko dengan ikat pinggangnya. Papa marah karena memergoki Marko kecil 12 tahun yang pulang ke rumah dengan memakai seragam Orange, kesebelasan Belanda.

“Marko cuma main, Pa. Marko udah nggak ikut sekolah bola itu lagi. Tadi Mar~” Pembelaan Marko terhenti. Papa langsung merebut bola yang ia pegang. Di ruang keluarga yang seharusnya mereka dipenuhi dengan keakraban, justru jadi tegang saat itu.

“Papa sudah melarang kamu berkali-kali untuk bermain bola, tapi kamu masih juga bandel.” Papa mengingatkan Marko.

“Marko ingin seperti Marco van Basten, Pa!” bisiknya seraya tertunduk.

“Hhh, siapa itu Marco van Basten? Papa belum pernah dengar ada menteri kita bernama Marko van Basten! Lepas baju kamu itu sekarang juga.” Menarik-narik baju seragam sepakbola yang melekat di badan Marko.

“Sebaiknya kamu nggak usah bergaul lagi dengan teman yang mengajakmu mendaftar di sekolah bola itu. Paham?”

Namun saat itu, Marko enggan melepaskan bajunya. Ia amat menyayangi seragam yang ia beli dari celengannya. Jelas Papa semakin emosi. Kala itu ia sedang uring-uringan karena pemilik rumah sewaan mereka meminta ia dan keluarganya segera berkemas. Rumah itu ingin dijual. Papa tengah mengembang suatu masalah serius.

Mungkin karena sedih melihat pertengkaran itu, Mama tiba-tiba mengeluhkan perutnya yang mulas. Ia memang tengah mengandung hampir 9 bulan. Mungkin sudah saatnya ia diboyong ke rumah sakit. Papa menghentikan kemarahannya pada Marko. Ia segera menghidupkan mesin mobil bututnya.

Marko dan Marsya diminta menggendong mama hingga ke mobil. Sesampainya mereka ke rumah sakit terdekat, Papa langsung diminta menyanggupi biaya administrasi sebelum mama dioperasi caesar untuk persalinan. Panik, Papa mengiyakan saja walaupun jumlah uang yang diajukan pihak rumah sakit terlalu besar baginya.

Karena banyaknya pasien, para dokter yang sibuk malah mendahulukan istri seorang pejabat penting yang juga akan melahirkan, yang datang belakangan. Cara mereka memperlakukan orang itu memang lebih istimewa. Mama terlambat ditangani hingga ia tidak sanggup dan menyerah. Ia meninggal.

Mungkin itu memang sudah suratan takdirnya. Namun bisakah hal itu mereka terima begitu saja? Peristiwa itu berbekas sekali di hati mereka! Seperti sebuah dendam.

Peristiwa menyedihkan tersebut mengubah pemikiran, sifat, bahkan cita-cita  mereka—Papa, Marko, dan Marsya. Bagi Papa, kematian istrinya itu karena ia salah telah membawa sang istri ke rumah sakit swasta yang elit dan mahal. Saat itu ia hanya memakai kaos putih polos dan celana lusuh. Mungkin ia dianggap miskin dan tidak mampu membayar biaya administrasi. Oleh karena itu, sebelum mereka mengoperasi mama, Papa diminta berjanji untuk menyanggupinya terlebih dahulu.

Dulunya, Papa senang hidup sederhana. Sekarang, ia mendirikan usaha sambilan di sana sini agar ia bisa lebih kaya. Ia selalu berpenampilan necis agar terlihat seperti orang kaya. Membeli rumah besar dengan uang pinjaman di Bank, dan sebagainya.

Seolah kemiskinan yang sudah membunuh istrinya!

Sedangkan bagi Marsya, mungkin mama mash bisa terselamatkan jika mereka berstatus sosial tinggi seperti istri pejabat tenar itu. Pihak rumah sakit lebih mendahulukan orang penting daripada mereka yang hanya orang biasa, tidak populer. Oleh karena itu, ia pun makin mantap dengan cita-citanya sebagai perancang mobil, dengan embel-embel terkenal di belakangnya.

Dan bagi Marko? Itu bukan salah identitas dan imej! Dokter itu saja yang tidak profesional. Memang tak semua dokter itu baik. Karena itu ia berjanji, suatu saat ia akan menjadi dokter yang bijak. Tahu mana yang harus didahulukan. Tak memandang status pasien. Bekerja dengan profesional. Sebab mengapa ia mencintai pelajaran Biologi, dan berusaha meraih peringkat 1 di kelasnya. Impiannya menjadi pemain sepakbola pun mantap ia gantikan dengan mimpi barunya. Menjadi dokter.

“Karena mama, gue bisa ngelupain impian gue menjadi pemain sepakbola. Sedangkan Lo~”

“Ini juga karena mama, Ko,” sela Marsya. “Mungkin nanti gue bisa bikin mobil ambulance berkecepatan tinggi atau memiliki fasilitas lengkap hingga pasien bisa melahirkan langsung di dalam ambulance. Jadi nggak akan ada lagi kasus kematian karena keterlambatan ditangani, hehehe!” Ia sedikit bercanda. Namun, sebenarnya memiliki makna yang dalam.

Marko mengangguk. “Jangan menyerah untuk mengejar mimpi Lo! Sama seperti gue yang akan terus mengejar cita-cita gue sebagai dokter. Walau nantinya…” Marko menyeka keringat di dahinya. Marsya deg-degan menunggu kata-kata Marko berikutnya.

“…gue harus melanjutkan sekolah gue di AutoWheel,” sambungnya pelan.

Marsya terhenyak. Merasa ada yang aneh dari perkataan Marko. “Lo mempertahankan mimpi Lo sebagai dokter, tapi Lo pasrah jika Lo pindah ke AutoWheel? Maksudnya?”

Marko memberi feedback berupa senyum. Ia menyentuh pipi Marsya yang basah.

“Gue tahu, airmata itu bukan hanya karena Lo teringat sama mama kan? Tapi juga karena Lo teringat lagi dengan mimpi Lo menjadi perancang mobil terkenal? Ya kan?”

Marsya mengangguk. Marko benar.

“Gue udah merenunginya, Sya. Mikirin jalan yang terbaik buat kita bertiga—gue, Lo, juga Papa. Dan gue mutusin…” Marko menelan kembali kata-kata berikutnya. Suasana tiba-tiba senyap. Marsya tegang menunggu kalimatnya.

“Gue mutusin…” Ia menghela napas panjang. “…besok gue akan berusaha sekuat tenaga gue supaya gue lulus tes fisik di AutoWheel!”

Apa? Marsya kaget dengan keputusan Marko. Ia seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia memang sempat berharap agar Marko bersedia ikut tes fisik untuknya. Kini, setelah ucapan tersebut keluar dari mulut Marko sendiri, ia malah bingung.

“Kok malah pasang muka heran begitu?” Marko mengguncang-guncang bahunya.

“Lo bersedia berusaha sekuat tenaga agar bisa lulus? Jadi Lo ngizinin gue nyamar jadi Lo kalo Lo lulus? Jadi, Lo rela pindah dari 101, atau…Lo ikhlas putus sekolah demi gue???”

Kernyit yang sama berpindah ke dahi Marko. “Lo mikir apaan? Putus sekolah demi Lo? Ngizinin Lo nyamar jadi gue? Hahaha!” Marko terbahak. Marko tengah meledek?

“Ko, maksud Lo apa? Jadi Lo rela ngelakuin itu semua buat gue? Kok Lo malah ketawa?” tuntut Marsya tak sabar. Ia mendorong bahu Marko.

“Siapa juga yang rela ngelakuin itu semua? Gue akan berusaha lulus tes fisik itu, memang…memang itu semua demi Lo,” pungkasnya. “Tapi kalo putus sekolah demi Lo, mana ridho gue! Gila aja kali, hahaha!”

“Terus???” Tampaknya Marsya sedang benar-benar haus akan penjelasan.

“Gue nggak marah tadi pagi Lo nyamar jadi gue. Justru, rencana gue memang seperti itu. Nggak datang ke AutoWheel supaya Lo gantiin gue. Gue berhasil, kan?” Ia mengerlingkan mata dengan jahilnya.

“Dan karena jiwa Lo emang udah ada di otomotif dan AutoWheel, gue nggak akan biarin gitu aja. Gue akan berusaha menaklukan tes fisik agar gue lulus. Setelah gue terdaftar di sana, maka cita-cita Lo menuntut ilmu di AutoWheel akan tercapai, Sya!”

Meskipun Marko sudah bicara dengan bahasa yang apa adanya, Marsya tetap geleng-geleng tidak mengerti. “Maksudnya???”

Tuingg! Marko justru mendorong kepala Marsya dengan telunjuknya. “Ini otak udang apa otak manusia sih? Ya dipake donk. Pikirin ndiri aja deh. Gue juga pusing ngejelasinnya.” Marko mendadak tidak mood dengan Marsya. Telmi sih!

Marko keluar gudang lebih dulu. Ia membawa kardus berisi mobil-mobilan itu. Marsya tak yakin apa Marko serius dengan perkataannya. Ia bengong saja di tempatnya. Marko bersedia ikut tes masuk agar Marsya bisa sekolah di AutoWheel? Ei, bukankah itu terdengar aneh?

Tapi Marko tak membual. Ia akan membuktikannya!

***